Kamis, 26 Juni 2008

TRANSPALASI GINJAL

Transplantasi Ginjal

3.1.1 Pengertian Transplantasi Ginjal

Transplantasi ginjal merupakan salah satu terapi pengganti pada pasien gagal ginjal terminal (renal replacement therapy) selain dilakukan dialysis (haemodialisis, dialysis peritoneal). Transplantasi ginjal merupakan terapi yang ideal hal ini dikarenakan menghasilkan rehbilitas yang lebih baik dibaningkan dengan kronik. Selain itu pula dapat menimbulkan perasaan sehat terhadap penderita sehingga ia merasa seperti orang normal.

Seiring dengan perkembangan tekhnologi kedokteran yang semakin pesat maka transplantasi ginjal makin lama menjadi lebih baik dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.

3.1.2 Faktor Penentu Keberhasilan Transplantasi Ginjal

Transplantasi ginjal merupakan transplantasi yang paling banyak dilakukan dibandingkan transplantasi organ lain dalam mencapai keberhasilan hidup terlama bagi penderitanya.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan transplantasi ginjal terdiri dari faktor yang Bersangkutan :

1) Donor Ginjal

Kekurangan ginjal donor merupakan masalah umum yang dihadapi dalam melakukan transplantasi ginjal. Di Negara maju kebanyakan donor yang digunakan berasal dari jenazah (cadaveric donor) sedangkan di Negara asia masih banyak yang menggunakan donor hidup (Living donor).

Terdapat 2 macam donor ginjal yang dapat digunakan dalam transplantasi organ yaitu :

1. Donor Hidup (Living Donor)

Dalam melakukan transplantasi organ sebaiknya donor tersebut memiliki hubungan keluarga. Adapun beberapa syarat yang harus dipenuhi jika sesorang tersebut ingin mendonorkan ginjalnya diantaranya:

a. Usia > 18 thn s.d <>

b. Motivasi yang tinggi untuk menjadi donor tanpa adanya paksaan.

c. Kedua ginjal normal

d. Tidak mempunyai penyakit yang dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal dalam waktu yang lama.

e. Kecocokan golongan darah ABO, HLA dan tes silang darah (cross match)

f. Tidak mempunyai penyakit yang dapat menular kepada resipien.

g. Sehat mental.

h. Toleransi operasi baik.

Dalam pengambilan donor ginjal dilakukan beberapa pemeriksaan calon donor yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisis lengkap, pemeriksaan labolatorium lengkap termasuk tes fungsi ginjal, pemeriksaan golongan darah dan sistem HLA, Petanda infeksi virus (hepatitis B, hepatitis C, CMV, HIV) foto dada, IVP, ekokardiografi dan anteriografi ginjal.

2. Donor jenazah (Cadaveric Donor)

Donor jenazah merupakan donor dengan jumlah yang cukup banyak hal ini dilakukan karena terbatasnya jumlah donor hidup yang tersedia.

Donor jenazah berasal dari pasien yang mengalami mati batang otak akibat kerusakan otak yang fatal usia 10-60 thn, tidak mempunyai penyakit yang dapat ditularkan seperti Hepatitis, HIV, atau penyakit ganas kecuali tumor otak primer, Fungsi ginjal harus baik sampai pada saat menjelang kematian, panjang hidup ginjal transplantasi dari donor jenazah yang meninggal karena stroke, iskemia tidak sebaik yang meninggal karena pendarahan subarakoid.

Apabila donor yang diambil menggunakan donor hidup maka donor tersebut dapat berasal dari individu yang mempunyai hubungan keluarga (Living Related Donor) atau tidak ada hubungan keluarga (Living Non Related Donor). Akan tetapi ada permasalahan yang ditimbulkan apabila tidak terdapat hubungan keluarga yaitu komersialisasi organ tubuh.

2) Resipien Ginjal

Pasien gagal ginjal terminal yang potensial menjalani transplantasi ginjal harus dinilai oleh tim transplantasi, setelah itu dilakukan evaluasi dan persiapan untuk transplantasi. Resipien tetap akan menjalani haemodialisis secara teratursebelum melakukan operasi transplantasi hal ini dilakukan agar pada saat akan menjelang operasi maka tercapai keadaan yang optimal bagi pasien.

Dalam melakukan transplantasi terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan jasmani yang teliti untuk menetapkan adanya hipertensi, penyakit pembuluh darah perifer dan penyakit jantung koroner, ulkus peptikum dan keadaan saluran kemih. Disamping itu pula terdapat pemeriksaan labolatorium.

Beberapa resipien yang potensial untuk melakukan transplantasi ginjal diantaranya:

1. Dewasa

2. Pasien yangkesulitan menjalani haemodialisis dan CAPD.

3. Saluran kemih bawah harus normal bila ada kelainan dikoreksi terlebih dahulu.

4. Dapat menjalani terapi imunosupresi dalam jangka waktu yang lama dan kepatuhan berobat tinggi.

Selain itu terdapat kontra indiksi yang dapat ditimbulkan yaitu :

1. Infeksi akut; Tuberkulosis, infeksi saluran kemih, hepatitis akut.

2. Infeksi kronik, brokiektasis

3. Ateroma yang berat

4. Ulkus peptikum yang aktiv

5. Penyakit keganasan

6. Malnutrisi.

3) Faktor Imunologis

4) Faktor Pembedahan yang meliputi; penanganan pra-operatif, peri-operatif dan pasca operatif .

Disamping itu ada pula kenyataan lain yang dianggap turut mendorong keinginan seseorang untuk melaksanakan transplantasi ginjal yaitu memungkinkan dilaksanakannya transplantasi ulang bila ginjal yang dicangkok sebelumnya tidak berfungsi kembali.

3.2 Kasus Transplantasi Organ Hati (Hepar) serta

Kerusakan hepar terminal yang termanifestasi dalam bentuk sirosis hepatis merupakan suatu masalah yang belumdapat terselesaikan. Hepatitis kronik dapat menyebabkan sirosis hepatis memiliki faktor yang berbeda-beda. Secara epidemiologis bahwa pada ras kaukasian penyebab utamanya proses autoimun 1 sedangkan pada ras Polynesia penyebab utamanya adalh infeksi virus.

Terapi standar yang telah diterapkan adalah terapi mengeradikasi virus hepatitis serta penggunaan interferon dan lamivudine. Terapi yang paling ideal hanyallah transplantasi hepar, namun dalam melakukannya mengalami banyak kesulitan diantaranya:

- Mencari donor yang mau menyumbangkan heparnya.

- Kecocokan organ donor dengan sistem pertahanan tubuh penerima (kompatibilitas)

- Teknik pemasangan organ hepar yang amat rumit.

Saat ini mulai dikembangkan suatu metode baru yang disebut ELAD (Extracorporeal Liver Assist Device). Alat ini dirancang untuk menggantikan beberapa fungsi hepar, dalam penggunaannya mirip dengan haemodialisis. Akan tetapi ELAD dilengkapi dengan sistem sirkulasi darah eksternal yang akan membawa darah penderita menuju suatu ruang penyaring yang didalamnya terdapat sekumpulan sel hepatosit hasil pengkulturan.

3.3 Metode dan Alat baru untuk Transplantasi sel Hepatosit

Sirosis hepatic merupakan tahap akhir dari hepatitis kronik ini merupakan salah satu masalah kesehatan pada saat ini. Salah satu jalan alternative yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut adalah Transplantasi sel hepatosit kedalam jaringan hepar resipien secara intra portal. Namun teknik ini memiliki kelemahan yakni terjadinya nekrosis di jaringan hepar resipien karena terbentuknya okulasi di sepanjang pembuluh porta selain itu pula tingkat ketahanan hidup sel hepatosit donor didaerah barunya juga sangat minim sehingga mempengaruhi tingkat keberhasilan transplantasi intra portal.

Untuk menyempurnakan transplantasi hati dicciptakan metode dan alat baru yang dinamakan “ Hepatosit Sitotransplantator” sehingga upaya penanganan proses transplantasi sel dikendalikan secara komphrehensif dan sistematis, sedangkan bahan baku sel hepatosit yang akan digunakan untuk transplantasi diambil dari subjek transplant (autotransplan)dengan cara biopsy tearah dengan bantuan USG.

Metode baru yang digunakan dalam transplanasi hati meliputi beberapa tahap yakni:

3. Sel sample dibiakkan dalam media kultur CRML 1066 (Mediatech) dan mendapat proteksi seluler dari Nafamostat Mesilate (merupakan protease inhibitor).

4. Sel hasil kultur akan dikirim kembali ke hepar resipien dengan bantuan tekanan alir yang berasal dari aliran darh resipien, untuk mendapatkan tekanan alir tersebut, didesain suatu sirkulasi vascular tertutup dengan menggunakan jarum inlet outlet yang terhubung dengan silicon tubing berdiameter 3,2 x 1,6 mm.

5. Untuk membantu meningkatkan tekanan intra tuba, ditambahkan sebuah pompa peristaltis untuk mendorong darah memasuki multiport ejector yang berfungsi juga sebagai mixer.

6. Sel hepatosit yang telah dipindahkan dari botol kultur kedalam pompa syringe akan didorong menuju multoport ejector untuk bertemu dengan darah dari sirkulasi tertutup.

7. Sementara itu pompa syringe II akan mengirimkan larutan anti penggumpalan sel (EGTA), anti koagulan (EDTA), serta faktor-faktor pertumbuhan (HGF, IGF-1, dan VEGF) kedalam multiport ejector.

8. Larutan yang telah bercampur tersebut selanjutnya akan mengalami manipulasi gear resiprokal melalui micro vibrator yang terletak dibawah multiport ejector / mixer yang dimaksudkan untuk menghomogenisasi dan mengkondisikan sel hepatosit dalam keadaan tunggal.

9. Suspensi sel hepatosit darah- faktor anti penggumpalan-anti koagulan-faktor pertumbuhan akan difiltrasi melalui filter mikro dengan diameter porus 80 m.

10. Suspensi hepatosit akan masuk kedalam pembuluh darah vena porta melalui silicon tubing dan jarum outlet

11. Untuk menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif bagi sel hepatosit, salah satu upaya yang dilakukan adalah meregulasi suhu melalui penggunaan “jaket air” yang terhubung dengan waterbath sebagai penyedia air hangat dengan suhu 370C

3.4 Prosedur Isolasi sel Hepatosit

Pengambilan sample untuk bahan baku kultur dilakukan dengan metode biopsi terarah yang dibantu panduan USG. Penggunaan USG, selain membnerikan arahan yang tepat dalam pengambilan jaringan juga dimaksudkan untuk memberikan gambaran awal daerah hepar normal.

Sebagian sample disisihkan untuk uji sitologi, sementara sebagian lagi mendapatkan perlakuan pencucian dengan menggunakan Liberasi HI (0.47 mg/ml) (Roche, Indianapolis, IN) (suhu kamar /250C) yang dilarutkan dalam Hank’s Balanced Salt solution (HBSS) yang mengandung 1 U/ml DNAase I (Sigma). Tujuan pencucian ini untuk menghapus kemungkinanadanya sel-sel lain seperti fibroblast.

Setelah itu sel hepatosit dicuci dengan larutan RPMI 1640 yang mengandung FBS 10% lalu sel hepatosit dipindahkan kedalan larutan Eurocolins yang mengandung FBS 20%. Sel hepatosit akan diisolasi dalam prosesor darah COBE dan disentrifugasi dalam Discontinuous Euroficoll gradient.

Sel hepatosit hasil isolasi dieramkan dalam medium kultur CRML-1066 yang mengandung FBS 10% dan CO2 5% dengan suhu 280C. setelah 24 jam dilakukan panen dan uji viabilitas dengan menggunakan ethidium bromide 7.

3.5 Prosedur Pra-Transplantasi

Meskipun sel hepatosit berasal dari calon resipien (autotransplantasi), perlu dilakukan upaya preventive untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan oleh sistem komplemen. Oleh karena itu sel hepatosit terlebih dahulu dieramkan bersama cairan plasma dari darah resipien yang mengandung Nafamosmat Mesilate dengan konsentrasi 3,8 x 10-5M selama 6 jam dengan suhu 280C, kemudian dicuci dengan larutan RPMI 1640 yang mengandung 25 mmol/I HEPES8. maka dihasilkan sel hepatosit yang siap dipindahkan ke tabung pompa syringe secara steril.

3.6 Teknik Transplantasi sel Hepatosit

Secara teknis alat dan metode hepatosit sitotransplantator didesain untuk mrngatasi berbagai kendala dalam proses transplantasi hepatosit yang meliputi:

1. Anti Penggumpalan

2. Viabilitas di lokus transplant

3. Perlindungan sel

Tidak ada komentar: